Sabtu, 10 Januari 2009

Modem Huawei E220 & PCMCI : Kejutan dari Si Mini yang canggih



huawei_modem_e220.jpg

Kesibukan tak pernah memasung lelaki belia itu. Saya bukanlah tipe pekerja nine-to-five, yang terpaku di kantor dari pukul 9 pagi hingga 5 sore. Bukan, dia bukan tipe pegawai kantoran seperti itu.

Programmer senior di perusahaan pembuat aplikasi perkantoran itu adalah pekerja mobile. Separuh waktunya bisa dihabiskan di jalan, kafe, atau bandar udara. Ia harus bolak-balik terbang ke berbagai kota untuk menyambangi kliennya. Kerap kali dia juga harus bekerja di kafe langganannya di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan. Sambil menghirup kopi hangat, dia membaca surat atau mengecek aplikasi kliennya dari jarak jauh.

“Senjatanya” apalagi kalau bukan laptop dan modem 3,5G (generasi ke-3,5) merek Huawei E220. Duet gadget itulah yang membuat saya selalu terhubung ke kantor dan kliennya.

Modem 3,5G Huawei E220 inilah modem impiannya selama ini. Ukurannya hanya sebesar tetikus mini. “Jadi kabelnya tak ribet, saya menempelkan modem itu di punggung laptop,” ujar lelaki yang pernah memakai aneka telepon seluler–Sony Ericsson K800, Nokia 6233, dan Nokia E61–untuk modem 3G (generasi ketiga) itu. Ini kelebihan modem itu ketimbang menggunakan ponsel 3G sebagai modem.

Jangan tanya soal kecepatannya, Huawei E220 ini sudah mengusung teknologi 3,5G atau High Speed Downlink Packet Access (HSDPA), teknologi tercepat untuk akses Internet di Indonesia saat ini. Dengan teknologi itu, modem mini ini bisa memiliki kecepatan maxi. Teorinya bisa hingga 3,6 megabit per detik. Tempo juga sudah menjajalnya dan bisa memperoleh kecepatan 1,5 megabit per detik dengan menggunakan teknologi HSDPA milik Telkomsel.

Teknologi 3,5G memang menawarkan kecepatan yang mempesona ketimbang 3G. Cobalah Anda duduk di kafe sambil mengunduh software atau film. Dengan jaringan 3G satu jam, pecandu Internet, seperti Ari, bisa mengunduh berkas sebesar 100 megabyte. Adapun dengan 3,5G satu jam, Anda bisa mendapatkan berkas sebesar 1,2 gigabyte. Modem mini yang mengejutkan.

Saking gandrungnya dengan modem ini, saya pernah memakai modem itu 13 jam nonstop tanpa putus. Ketangguhan modem ini pula yang membuat orang seperti Ari berpaling dari modem-modem yang memakai teknologi Code Division Multiple Access, yang ditawarkan Fren, Flexi, atau Esia.

Huawei memang bukan nama besar di dunia modem. Namanya kalah oleh Sierra Wireless, Vodafone, atau Globetrotter. Tapi ketangguhan Huawei tak bisa dipandang enteng.

Keunggulan lain modem ini adalah koneksi dengan USB dan model kartu PCMCIA seperti modem yang lain. Dengan koneksi USB, modem bisa dicolokkan ke laptop atau komputer, berbeda dengan kartu PCMCIA yang hanya bisa dipakai di laptop.

Dengan sederet keunggulan itu, tak mengherankan bila modem Huawei ini bintangnya bakal bersinar terang di Indonesia. Terbukti sejumlah operator, seperti Telkomsel, XL, dan Indosat, menggandeng modem buatan Cina ini.

Akhirnya, hanya tebalnya dompet Anda dan cakupan jaringan 3,5G operator yang menjadi batas dari kenikmatan berselancar dengan modem ini.

+ (plus) Kecil, kecepatan tinggi dengan 3,5G, colokan USB yang bisa dipakai di laptop atau komputer.

- (minus) Panas bila dipakai lama, software bawaan hanya untuk Windows, harga lebih mahal ketimbang modem PCMCIA.

Frekuensi: HSDPA/UMTS 2.100 MHz dan GSM/GPRS/EDGE 900/1.800/1.900 MHz Antena: Internal SIM/USIM card: standar 6 PIN SIM card Dimensi: 89 mm (p) x 43 mm (l) x 14,5 mm (t) Berat: < 50 g


Anda Berminat ??? hanya dengan Rp.800.000 (PCMCCI) s/d Rp. 1.500.000 (Huwawei) anda bisa langsung Aktif

Silahkan hubungi kami di 081574965479 atau (021)32152100

Tidak ada komentar:

Posting Komentar